Senin, 13 Desember 2010

Al Aqidah Al Munjiyah

Al Imam al Hafizh Abdullah al Harari berkata:

Faedah: Golongan yang benar berkata: “Alam adalah benda (jauhar) dan sifat benda (‘aradl). Benda adalah sesuatu yang memiliki bentuk. Benda terbagi kepada dua bagian; (satu); benda yang telah mencapai puncak terkecil sehingga tidak dapat terbagi-bagi, (dua); benda yang dapat terbagi-bagi; yaitu dinamakan jism(benda/tubuh). Bagian pertama disebut dengan Jauhar Fard; yaitu bagian yang tidak dapat terbagi-bagi. Adapun ’aradl (sifat benda) adalah sesuatu yang menetap pada benda, artinya merupkan sifat bagi benda tersebut, seperti gerak, diam, dan berada pada tempat/arah. Adapun Allah tidak seperti demikian itu semua, mustahil Dia Allah sebagai Jauhar Fard atau jauhar yang tersusun-susun(jism); inilah pengertian perkataan sebagian ulama bahwa Allah maha suci dari al-kammiyyah (ukuran) dan maha suci dari al-kaifiyyah (sifat benda), dan tidak ada suatu apapun yang demikian itu kecuali Allah. Adapun perkataan kaum Hayyula (sekelompok dari kaum filsafat) yang mengatakan bahwa hayyula itu adalah benda yang tidak memiliki kammiyyah dan kaifiyyah adalah perkataan sesat (batil).

Inilah pengertian pernyataan golongan yang hak bahwa Allah maha suci dari bentuk/batasan. Karena jika Allah sebagai jauhar fard maka berarti Dia sama dengan jauhar fard itu sendiri, lalu bila Dia Allah lebih besar dari pada itu hingga sampai kepada bentuk benda yang paling besar; yaitu Arsy, atau apa bila Dia Allah lebih besar lagi dari pada Arsy tersebut seukuran memiliki penghabisan, atau seandainya Dia Allah lebih besar lagi dari pada itu sehingga tidak memiliki penghabisan; maka itu semua mengharuskan Allah itu terdiri dari susunan-susunan, padahal sesuatu yang tersusun itu membutuhkan kepada yang lain (yang menjadikannya dalam susunan tersebut); dengan demikian mestilah sesuatu tersebut baharu, inilah maksud perkataan Ali ibn Abi Thalib (semoga ridla Allah selalu tercurah baginya): ”Barangsiapa meyakini bahwa Tuhan kita (Allah) dibatasi (memiliki ukuran) maka ia adalah orang yang tidak tahu terhadap Pencipta yang disembah (artinya ia seorang yang kafir kepada Allah)”. (Diriwayatkan oleh al-Hafizh Abu Nu’aim dalam Hilyah al-Auliya’), dan inilah pula maksud perkataan Zainal Abidin Ali ibn al-Husain ibn Ali ibn Abi Thalib (semoga ridla Allah selalu tercurah baginya): ”Sesungguhnya Allah tidak dibatasi (artinya tidak berbentuk dan berukuran)”. (Diriwayatkan dengan sanad yang bersambung oleh Imam al-Hafizh al-Lughawi Muhammad Murtadla az-Zabidi dalam Ithaf as-Sadah al-Muttaqin, dan inilah pula maksud perkataan Abu Ja’far Ahmad ibn Muhammad ibn Salamah ath-Thahawi: ”Maha suci Dia Allah dari segala batasan-batasan”. Oleh karena itu mustahil bagi Allah menempel dengan alam, atau menyatu di dalamnya, dan atau jauh (terpisah) darinya dengan jarak. Inilah kebenaran pasti di mana yang selainnya (yang menyalahinya) pasti tidak benar. Hal itu oleh karena seluruh makhluk tidak lepas dari keadaan menempel sebagian dengan sebagiannya yang lainnya, atau terpisah sebagian dari sebagiannya lainnya; dan dua keadaan ini mustahil Allah disifati dengannya, karena keadaan demikian itu menuntut adanya keserupaan bagi Allah, padahal Allah telah menafikan segala keserupaan dari-Nya secara mutlak.


Jika kaum Hasyawiyyah --kaum sesat yang menetapkan adanya ukuran bagi Allah-- berkata: ”Pendapat ini sama saja dengan menafikan wujud Allah”, katakan kepada mereka: ”Kalian membangun keyakinan kalian di atas dasar prasangka. Prasangka itu sama sekali tidak dianggap (sebagai dasar kebenaran). Sesungguhnya yang dianggap itu adalah dalil syar’i dan akal sehat. Dan apa yang telah kita tetapkan di atas adalah sesuatu yang didasarkan kepada dalil syar’i dan akal sehat”.


Jika mereka berkata: ”Kami tidak beriman dengan sesuatu yang tidak dapat diraih oleh prasangka kami”, (jawab) ini berarti kalian mengingkari adanya suatu makhluk yang tidak dapat diraih oleh prasangka kalian sendiri; yang padahal makhluk tersebut telah ditetapkan keberadaannya oleh al-Qur’an, sebagaimana dalam firman-Nya ”Dia Allah yang telah menjadikan segala kegelapan dan cahaya” (QS. al-An’am: 1), ini artinya bahwa cahaya dan kegelapan adalah ciptaan Allah dengan kesaksian al-Qur’an, lalu apakah prasangka kalian dapat memahami adanya suatu waktu yang di dalamnya tidak ada kegelapan dan tidak ada cahaya walaupun itu telah ditetapkan keberadaannya dalam ayat ”Wa Ja’ala azh-zhulumat wa an-nur”? Arti ayat ini bahwa Allah yang telah menciptakan segala kegelapan dan cahaya yang sebelumnya keduanya tidak ada. Allah mengadakan keduanya dari sebelumnya keduanya tidak ada. Adanya suatu waktu sebelum adanya kegelapan dan cahaya tersebut tidak dapat diraih oleh segala prasangka kita dan prasangka kalian, juga tidak dapat diraih oleh gambaran (pikiran) kita dan gambaran kalian. Siapakah yang dapat menggambarkan adanya suatu waktu yang di dalamnya tidak ada cahaya dan kegelapan? Namun begitu kita wajib beriman bahwa ada suatu waktu yang di dalamnya tidak ada cahaya dan tidak ada kegelapan karena Allah menciptakan cahaya dan kegelapan tersebut setelah Dia menciptakan air dan arsy, oleh karena makhluk Allah yang pertama adalah air, dan kemudian arsy, ini artinya bahwa cahaya dan gelap belum ada kecuali setelah adanya air dan arsy. Kemudian ketahuilah bahwa sesuatu yang boleh disifati dengan ”di dalam” dan ”di luar” maka dia itu adalah ciptaan Allah yang maha Esa yang tidak menyerupai suatu apapun.


Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, shalawat dan salah semoga selalu tercurah atas tuan kita Muhammad, keluarganya dan para sahabatnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih...